Oleh :Afifah Rahman, Nurul
Amalia Aris, Widya Indah Lestari Aco,
A. Pengertian
Tumbuh Kembang
Pertumbuhan (growth) adalah merupakan peningkatan jumlah dan
besar sel di seluruh bagian tubuh selama sel-sel tersebut membelah diri dan
mensintesis protein-protein baru, menghasilkan penambahan jumlah dan berat
secara keseluruhan atau sebagian. Dalam pertumbuhan manusia juga terjadi
perubahan ukuran, berat badan, tinggi badan, ukuran tulang dan gigi, serta
perubahan secara kuantitatif dan
perubahan fisik pada diri manusia itu. Dalam pertumbuhan manusia terdapat
peristiwa percepatan dan perlambatan. Peristiwa ini merupakan kejadian yang ada
dalam setiap organ tubuh.
Perkembangan (development) adalah perubahan secara
berangsur-angsur dan bertambah sempurnanya fungsi alat tubuh, meningkatkan dan
meluasnya kapasitas seseorang melalui pertumbuhan, kematangan atau kedewasaan
(maturation), dan pembelajaran (learning). Perkembangan manusia berjalan secara
progresif, sistematis dan berkesinambungan dengan perkembangan di waktu yang
lalu. Perkembangan terjadi perubahan dalam bentuk dan fungsi kematangan organ
mulai dari aspek fisik, intelektual, dan emosional. Perkembangan secara fisik
yang terjadi adalah dengan bertambahnya sempurna fungsi organ. Perkembangan
intelektual ditunjukan dengan kemampuan secara simbol maupun abstrak seperti
berbicara, bermain, berhitung. Perkembangan emosional dapat dilihat dari
perilaku sosial lingkungan anak.
B.
Faktor Yang Mempengaruhi Tumbuh
Kembang
Setiap manusia mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang
berbeda-beda antara satu dengan manusia lainnya, bisa dengan cepat bahkan
lambat, tergantung pada individu dan lingkungannya. Proses tersebut dipengaruhi
oleh beberapa faktor-faktor di antaranya :
1. Faktor heriditer/ genetik
Faktor heriditer Pertumbuhan adalah suatu proses alamiah
yang terjadi pada individu, yaitu secara bertahap, berat dan tinggi anak
semakin bertambah dan secara simultan mengalami peningkatan untuk berfungsi
baik secara kognitif, psikososial maupun spiritual ( Supartini, 2000).
Merupakan faktor keturunan secara genetik dari orang tua
kepada anaknya. Faktor ini tidak dapat berubah sepanjang hidup manusia, dapat
menentukan beberapa karkteristik seperti jenis kelamin, ras, rambut, warna
mata, pertumbuhan fisik, dan beberapa
keunikan sifat dan sikap tubuh seperti temperamen.
Faktor ini dapat ditentukan dengan adanya intensitas dan
kecepatan dalam pembelahan sel telur, tingkat sensitifitas jaringan terhadap
rangsangan, umur pubertas, dan berhentinya pertumbuhan tulang. Potensi genetik
yang berkualitas hendaknya dapat berinteraksi dengan lingkungan yang positif
agar memperoleh hasil yang optimal.
2. Faktor Lingkungan/ eksternal
Lingkungan merupakan faktor yang mempengaruhi individu
setiap hari mulai lahir sampai akhir hayatnya, dan sangat mempengaruhi
tercapinya atau tidak potensi yang sudah ada dalam diri manusia tersebut sesuai
dengan genetiknya. Faktor lingkungan ini secara garis besar dibagi menjadi 2
yaitu :
a) Lingkungan pranatal (faktor
lingkungan ketika masihdalam kandungan)
Faktor prenatal yang berpengaruh
antara lain gizi ibu pada waktu hamil, faktor mekanis toksin atau zat kimia,
endokrin, radiasi, infeksi, stress, imunitas, dan anoksia embrio.
b) Lingkungan postnatal ( lingkungan
setelah kelahiran )
Lingkungan postnatal dapat di golongkan menjadi :
1) Lingkungan biologis, meliputi ras,
jenis kelamin, gizi, perawatan kesehatan, penyakit kronis, dan fungsi
metabolisme.
2) Lingkungan fisik, meliputi sanitasi,
cuaca, keadaan rumah, dan radiasi.
3) Lingkungan psikososial, meliputi
stimulasi, motivasi belajar, teman sebaya, stress, sekolah, cinta kasih,
interaksi anak dengan orang tua.
4) Lingkungan keluarga dan adat
istiadat, meliputi pekerjaan atau pendapatan keluarga, pendidikan orang tua,
stabilitas rumah tangga, kepribadian orang tua.
3. Faktor Status Sosial ekonomi
Status sosial ekonomi dapat
berpengaruh pada tumbuh kembang anak. Anak yang lahir dan dibesarkan dalam
lingkungan status sosial yang tinggi cenderung lebih dapat tercukupi kebutuhan
gizinya dibandingkan dengan anak yang lahir dan dibesarkan dalam status ekonomi
yang rendah.
4. Faktor nutrisi
Nutrisi adala salah satu komponen
penting dalam menunjang kelangsungan proses tumbuh kembang. Selama masa tumbuh
kembang, anak sangat membutuhkan zat gizi seperti protein, karbohidrat, lemak,
mineral, vitamin, dan air. Apabila kebutuhan tersebut tidak di penuhi maka
proses tumbuh kembang selanjutnya dapat terhambat.
5. Faktor kesehatan
Status kesehatan dapat berpengaruh
pada pencapaian tumbuh kembang. Pada anak dengan kondisi tubuh yang sehat,
percepatan untuk tumbuh kembang sangat mudah. Namun sebaliknya, apabila kondisi
status kesehatan kurang baik, akan terjadi perlambatan.
C.
Ciri Proses Tumbuh Kembang
Menurut Soetjiningsih, tumbuh kembang anak dimulai dari masa konsepsi
sampai dewasa memiliki ciri-ciri tersendiri yaitu :
1.
Tumbuh
kembang adalah proses yang kontinyu sejak konsepsi sampai maturitas (dewasa)
yang dipengaruhi oleh faktor bawaan daan lingkungan.
2.
Dalam
periode tertentu terdapat percepatan dan perlambatan dalam proses tumbuh
kembang pada setiap organ tubuh berbeda.
3.
Pola
perkembangan anak adalah sama, tetapi kecepatannya berbeda antara anak satu
dengan lainnya.
4.
Aktivitas
seluruh tubuh diganti dengan respon tubuh
yang khas oleh setiap organ.
Secara garis besar menurut Markum (1994) tumbuh kembang
dibagi menjadi 3 yaitu:
1.
Tumbuh
kembang fisis
Tumbuh kembang fisis meliputi
perubahan dalam ukuran besar dan fungsi organisme atau individu. Perubahan ini
bervariasi dari fungsi tingkat molekuler yang sederhana seperti aktifasi enzim
terhadap diferensi sel, sampai kepada proses metabolisme yang kompleks dan
perubahan bentuk fisik di masa pubertas.
2.
Tumbuh
kembang intelektual
Tumbuh kembang intelektual berkaitan
dengan kepandaian berkomunikasi dan kemampuan menangani materi yang bersifat
abstrak dan simbolik, seperti bermain, berbicara, berhitung, atau membaca.
3.
Tumbuh
kembang emosional
Proses tumbuh kembang emosional
bergantung pada kemampuan bayi umtuk membentuk ikatan batin, kemampuan untuk
bercinta kasih.
D.
Tumbuh Kembang Usia Remaja
1. Pengertian Remaja
Masa
remaja menurut Mappiare (1982) berlangsung antara umur 12 sampai dengan 21
tahun bagi perempuan dan 13 sampai 22 tahun bagi laki-laki. Rentang usia remaja
tersebut dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu usia 12/13 sampai 17/18 tahun
adalah remaja awal dan usia 17/18 tahun sampai 21/22 tahun, yaitu remaja akhir.
Remaja
dalam bahasa aslinya disebut adolescence,
berasal dari bahasa adolecere yang artinya “tumbuh atau tumbuh untuk
mencapai kematangan”. Bangsa primitif dan orang-orang purbakala memandang masa
puber dan masa remaja berbeda dengan periode lain dalam rentang kehidupan.
Perkembangan lebih lanjut, istilah adolescence
sesungguhnya memiliki arti mencakup kematangan mental, emosional, sosial, dan
fisik (Hurlock:1991). Pandangan
tersebut kemudian didukung oleh Piaget
yang mengatakan bahwa secara psikologis, remaja adalah suatu usia dimana
individu menjadi julam masyarakat dewasa, suatu usia dimana anak tidak merasa
berada dibawah tingkat orang yang lebih tua, melainkan merasa sama atau paling
tidak sejajar. Memasuki masyarakat dewasa ini mengandung afektif, lebih atau
kurang dari usia pubertas.
Remaja
juga sedang mengalami perkembangan pesat dalam aspek intelektual. Transformasi
intelektual dari cara berpikir remaja ini memungkinkan mereka tidak hanya mampu
mengintregasikan dirinya ke dalam masyarakat dewasa, tetapi juga merupakan
karakteristik yang paling menonjol dari semua periode perkembangan (Shaw dan Costanzo, 1985).
2. Tugas-Tugas
Perkembangan Masa Remaja
Tugas perkembangan masa
remaja difokuskan pada upaya meninggalkan sifat kekanak-kanakan serta berusaha
untuk mencapai kemampuan bersikap dan berperilaku secara dewasa. Adapun
tugas-tugas perkembangan masa remaja menurut Hurlock (teen task development) (1991) adalah berusaha:
a) Mampu
menerima keadaan fisiknya
b) Mampu
menerima dan memahami peran seks usia dewasa
c) Mampu
membina hubungan baik dengan anggota kelompok yang berlawanan jenis
d) Mencapai
kemandirian emosional
e) Mencapai
kemandirian ekonomi
f) Mengembangkan
konsep dan keterampilan intelektual yang sangat diperlukan untuk melakukan
peran sebagai anggota masyarakat
g) Memahami
dan menginternalisasikan nilai-nilai orang dewasa dan orang tua
h) Mengembangkan
perilaku tanggung jawab sosial yang diperlukan untuk memasuki dunia dewasa
i) Mempersiapkan
diri untuk memasuki perkawinan
j) Memahami
dan mempersiapkan berbagai tanggung jawab kehidupan keluarga.
Tugas-tugas
perkembangan fase remaja sangat berkaitan dengan perkembangan kognitifnya,
yaitu fase operasional formal. Kematangan pencapaian fase kognitif akan sangat
membantu kemampuan dalam melaksanakan tugas-tugas perkembanganya dengan baik.
3. Tahap tumbuh kembang pada Remaja (
12-18/20 tahun)
a)
Perkembangan
Psikoseksual Genital (13 tahun keatas / pubertas atau remaja sampai dewasa)
Tahap ini genital menjadi pusat kesenangan seksual dan
tekanan, produksi horman seksual menstimulasi perkembangan heteroseksual,
energi ditunjukan untuk mencapai hubungan seksual yang teratur, pada awal fase
ini sering muncuul emosi yang belum matang, kemudian berkembang kemampuan untuk
menerima dan memberi cinta.
b) Perkembangan Psikosisial
Erik H Erickson mengungkapkan pendapatnya tentang teori
perkembangan psikososial remaja (12 -
18 tahun) pada tahap Identitas vs bingung (identity vs role confusion).
Teman sebaya memiliki pengaruh
yang sangat besar yang kuat terhadap perilaku anak, anak mengembangkan
penyatuan rasa diri sendiri, kegagalan untuk mengembangkan rasa identitas
dengan kebingungan peran,sering muncul dari perasaan tidak adekuat, isolasi dan
keragu-raguan. Individu mengembangkan kedekatan
dan berbagi hubungan dengan orang lain, yang mungkin termasuk pasangan
seksualnya, ketidakpastian individu mengenai akan mempunyai kesulitan
mengembangkan keintiman, individu tidak bersedia atau tidak mampu berbagi
mengenai diri sendiri hal ini akan menjadikan individu meraa sendiri.
Selain teori tersebut menurut, diketahui bahwa gejolak emosi
remaja dan masalah remaja lain pada umumnya disebabkan antara lain oleh adanya
konflik peran sosial. Di satu pihak ia sudah ingin mandiri sebagai orang
dewasa, di pihak lain ia masih harus terus mengikuti kemauan orang tua. Rasa
ketergantungan pada orang tua di kalangan anak-anak Indonesia lebih besar lagi,
karena memang dikehandaki demikian oleh orang tua.Konflik peran yang yang dapat
menimbulkan gejolak emosi dan kesulitan kesulitan lain pada amasa remaja dapat
dikurangi dengan memberi latihan-latihan agar anak dapat mandiri sedini
mungkin. Dengan kemandiriannya anak dapat memilih jalannya sendiri dan ia akan
berkembang lebih mantap. Oleh karena itu, ia tahu dengan tepat saat saat yang
berbahaya di mana ia harus kembali berkonsultasi dengan orang tuanya atau
dengan orang dewasa lain yang lebih tahu dari dirinya sendiri.
c)
Perkembangan
Moral
Moral merupakan bagian yang cukup penting dalam jiwa remaja.
Sebagian orang berpendapat bahwa moral bisa mengendalikan tingkah laku anak
yang beranjak dewasa ini sehingga ia tidak melakukan hal hal yang merugikan
atau bertentangan dengan kehendak atau pandangan masyarakat.Di sisi lain
tiadanya moral seringkali dituding sebagai faktor penyebab meningkatnya
kenakalan remaja.
Menurut teori Kohlberg (1968)
menyatakan bahwa perkembangan moral remaja yaitu Tingkat moralitas pasca konvensional : usia 13 tahun sampai meninggal.
Individu memperoleh nilai moral yang benar, pencapaian
nilai moral yang benar terjadi setelah dicapai formal operasional dan tidak
semua orang mencapai tingkatan ini.
Konsep kunci untuk memahami perkembangan moral, khususnya
teori Kohlberg, ialah internalisasi (internalization), yakni perubahan perkembangan
dari perilaku yang dikendalikan secara eksternal menjadi perilaku yang
dikendalikan secara internal.
d)
Perkembangan Spiritual
Sejalan dengan perkembangan social, perkembangan keagamaan
mulai disadari bahwa terdapat aturan-aturan perilaku yang boleh, harus atau
terlarang untuk melakukannya.Perkembangan
spiritual anak sangat bepengaruh sekali dalam tumbuh kembang anak. Agama
sebagai pedoman hidup anak untuk masa yang akan datang. Selain itu, moral
seorang anak juga dapat dibentuk melalui perkembangan spiritual. Anak diberi
pengetahuan adanya kepercayaan terhadap Tuhan YME sesuai dengan kepercayaan
yang dianut orang tua. Karena agama seorang anak itu diturunkan/diwariskan oleh
orang tuanya.
Para
ahli berpendapat bahwa perkembangan spiritual remaja (12-18 th) didefenisikan
sebagai Tanda-tanda masa remaja awal :
sikap negatif disebabkan alam pikirannya yang kritis melihat kenyataan orang-orang beragama secara
hypocrit yang pengakuan dan ucapannya tidak selalu sama dengan perbuatannya,
pandangan dalam hal ke-Tuhanan menjadi kacau karena ia bingung terhadap
berbagai konsep tentang aliran dan paham yang saling bertentangan.
Tanda-tanda masa remaja akhir : sikap kembali kearah
positif dengan tercapainya kedewasaan
intelektual, pandangan dalam hal ke-Tuhanan dipahamkan dalam konteks agama yang
dianut dan dipilih, penghayatan rohaninya kembali tenang setelah melalui proses
identifikasi dan membedakan agama sebagai doktrin bagi para penganutnya.
4. Karakteristik
Pertumbuhan Fisik Remaja
Awal masa remaja ditandai dengan pertumbuhan
fisik yang sangat pesat, dengan mulai berfungsinya hormon-hormon sekunder. Masa
remaja yang merupakan masa transisi dari masa kanak-kanak menuju kehidupan
orang dewasa tersebut merupaka masa yang sulit dan penuh gejolak sehingga sering
disebut sebagai masa badai dan topan, masa pancaroba, dan berbagai sebutan
lainnya yang menggambarkan banyaknya kesulitan yang dialami anak pada masa
perubahan tersebut. Secara umum, remaja memiliki ciri sebagai berikut:
a) Pertumbuhan
fisik yang sangat pesat dan mulai berfungsinya hormon sekunder, terutama hormon
reproduksi.
b) Fase
remaja adalah masa mecari identitas sehingga pada masa ini anak mempunyai
pribadi yang sangat labil, baik dalam hal pemikiran, perasaan, maupun emosinya
sehingga pada masa ini anak akan mudah sekali dipengaruhi.
c) Remaja
mulai menginginkan kebebasan emosional dari orang tua, dan mulai mengikatkan
dirinya dengan kehidupan per group sehingga pada masa ini kehidupan kelompok
sebaya menjadi sangat pentin, bahkan dikatakan per group adalah “
segala-galanya” untuk remaja.
d) Adanya
berbagai perubahan yang dialami menyebabkan remaja menjadi anak yang emosional,
gampang tersinggung, mudah melampiaskan kemarahanya, malas, murung, dan selalu
ingin menangis sendiri yang kadang-kadang tanpa sebab yang pasti.
e) Perkembangan
penalaran yang pesat menjadikan kelompok remaja menjadi kelompok yang bersifat
kritis dan idealis sehingga dalam kehidupan sosial kemasyarakatan kelompok ini
mudah sekali melakukan protes bila ditemui hal yang tidak sesuai dengan konsep
idealismenya.
f) Pada
masa ini juga berkembang rasa ingin tahu yang sangat besar sehingga pada
kelompok-kelompok remaja juga berkembang sifat heroik sehingga remaja suka
sekali menjadi pengelana, mendaki gunung atau menjadi penjelajah dan
kegiatan-kegiatan lain yang menyerempet bahaya.
g) Mulai
berfungsinya hormon sekunder, terutama hormon reproduksi menyebabkan remaja
mulai tertarik pada lawan jenis, sebagai tanda kesiapan fisik mereka, pada masa
ini anak juga suka berkhayal.
Pertumbuhan yang pesat
dan munculnya berbagai perubahan fisik yang terjadi merupakan gejala primer
yang menandakan awal masa remaja. pentingnya pertumbuhan fisik remaja sering
menimbulkan kejutan pada diri remaja itu sendiri. Pakaian yang dimilikinya
seringkali menjadi cepat tidak muat dan harus membeli lagi yang baru.
5. Faktor
Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Fisik Remaja
Faktor-faktor yang
dapat mempengaruhi pertumbuhan fisik remaja dapat berasal dari berbagai sumber,
yaitu:
a)
Keluarga
Faktor dari keluarga
yang dapat mempengaruhi pertumbuhan fisik remaja meliputi keturunan dan
lingkungan.keturunan menyebabkan seorang anak dapat lebih tinggi atau panjang
dibandingkan anak lainnya sehingga akan lebih berat pula tubuhnya, sedangkan
faktor lingkungan akan dapat membantu menentukan dapat tercapai tidaknya
perwujudan potensi keturunan yang dibawa anak tersebut.
b)
Gizi
Anak-anak yang
memperoleh gizi cukup selama masa pertumbuhannya biasanya akan lebih tinggi
tubuhnya dan sedikit lebih cepat mencapai taraf atau masa remaja dibandingkan
anak-anak yang kekurangan gizi.
c)
Gangguan Emosional
Dari berbagai
penelitian menyimpulkan bahwa anak yang terlalu sering mengalami gangguan
emosional akan menyebabkan terbentuknya steroid
adrenal yang berlebihan. Hal tersebut akan mengakibatkan berkurangnya
pembentukan hormon pertumbuhan di kelenjar pituitary.
d)
Jenis Kelamin
Dalam pertumbuhannya,
anak laki-laki cenderung lebih tinggi dan lebih berat daripada anak perempuan,
kecuali pada usia 12 dan 15 tahun anak perempuan biasanya menampakkan
pertumbuhan sedikit lebih tinggi dan lebih berat daripada anak laki-laki.
e)
Status Sosial Ekonomi
Anak-anak yang berasal
dari keluarga dengan status ekonomi yang redah, secara umum cenderung lebih
kecil dari pada anak-anak yang berasal dari keluarga yang status ekonominya
menengah apalagi mereka yang berada dalam status sosial ekonomi yang tinggi.
f)
Kesehatan
Status kesehatan anak
juga banyak mempengaruhi pertumbuhan remaja. anak-anak yang sehat dan jarang
sakit, biasanya akan memiliki tubuh yang lebih berat daripada anak yang sering
sakit.
g)
Bentuk Tubuh
Kecenderungan bentuk
tubuh, apakah masuk dalam klasifikasi eksomorf,
mesomorf, atau endomorph akan
mempengaruhi besar kecilnya tubuh remaja.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar