IT'S ABOUT KNOWLEDGE

Selamat Mengcopas, Jangan lupa sertakan sumber gan :v agar kita semua bahagia

Rabu, 09 Oktober 2019

Konsep Tumbuh Kembang Remaja



Konsep Tumbuh Kembang Remaja
Oleh  :Afifah Rahman, Nurul Amalia Aris, Widya Indah Lestari Aco,
A.  Pengertian Tumbuh Kembang
Pertumbuhan (growth) adalah merupakan peningkatan jumlah dan besar sel di seluruh bagian tubuh selama sel-sel tersebut membelah diri dan mensintesis protein-protein baru, menghasilkan penambahan jumlah dan berat secara keseluruhan atau sebagian. Dalam pertumbuhan manusia juga terjadi perubahan ukuran, berat badan, tinggi badan, ukuran tulang dan gigi, serta perubahan secara kuantitatif  dan perubahan fisik pada diri manusia itu. Dalam pertumbuhan manusia terdapat peristiwa percepatan dan perlambatan. Peristiwa ini merupakan kejadian yang ada dalam setiap organ tubuh.
Perkembangan (development) adalah perubahan secara berangsur-angsur dan bertambah sempurnanya fungsi alat tubuh, meningkatkan dan meluasnya kapasitas seseorang melalui pertumbuhan, kematangan atau kedewasaan (maturation), dan pembelajaran (learning). Perkembangan manusia berjalan secara progresif, sistematis dan berkesinambungan dengan perkembangan di waktu yang lalu. Perkembangan terjadi perubahan dalam bentuk dan fungsi kematangan organ mulai dari aspek fisik, intelektual, dan emosional. Perkembangan secara fisik yang terjadi adalah dengan bertambahnya sempurna fungsi organ. Perkembangan intelektual ditunjukan dengan kemampuan secara simbol maupun abstrak seperti berbicara, bermain, berhitung. Perkembangan emosional dapat dilihat dari perilaku sosial lingkungan anak.

B.     Faktor Yang Mempengaruhi Tumbuh Kembang
Setiap manusia mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang berbeda-beda antara satu dengan manusia lainnya, bisa dengan cepat bahkan lambat, tergantung pada individu dan lingkungannya. Proses tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor-faktor di antaranya :
1.      Faktor heriditer/ genetik
Faktor heriditer Pertumbuhan adalah suatu proses alamiah yang terjadi pada individu, yaitu secara bertahap, berat dan tinggi anak semakin bertambah dan secara simultan mengalami peningkatan untuk berfungsi baik secara kognitif, psikososial maupun spiritual ( Supartini, 2000).
Merupakan faktor keturunan secara genetik dari orang tua kepada anaknya. Faktor ini tidak dapat berubah sepanjang hidup manusia, dapat menentukan beberapa karkteristik seperti jenis kelamin, ras, rambut, warna mata,  pertumbuhan fisik, dan beberapa keunikan sifat dan sikap tubuh seperti temperamen.
Faktor ini dapat ditentukan dengan adanya intensitas dan kecepatan dalam pembelahan sel telur, tingkat sensitifitas jaringan terhadap rangsangan, umur pubertas, dan berhentinya pertumbuhan tulang. Potensi genetik yang berkualitas hendaknya dapat berinteraksi dengan lingkungan yang positif agar memperoleh hasil yang optimal.
2.      Faktor Lingkungan/ eksternal
Lingkungan merupakan faktor yang mempengaruhi individu setiap hari mulai lahir sampai akhir hayatnya, dan sangat mempengaruhi tercapinya atau tidak potensi yang sudah ada dalam diri manusia tersebut sesuai dengan genetiknya. Faktor lingkungan ini secara garis besar dibagi menjadi 2 yaitu :
a)      Lingkungan pranatal (faktor lingkungan ketika masihdalam kandungan)
Faktor prenatal yang berpengaruh antara lain gizi ibu pada waktu hamil, faktor mekanis toksin atau zat kimia, endokrin, radiasi, infeksi, stress, imunitas, dan anoksia embrio.
b)      Lingkungan postnatal ( lingkungan setelah kelahiran )
Lingkungan postnatal dapat di golongkan menjadi :
1)      Lingkungan biologis, meliputi ras, jenis kelamin, gizi, perawatan kesehatan, penyakit kronis, dan fungsi metabolisme.
2)      Lingkungan fisik, meliputi sanitasi, cuaca, keadaan rumah, dan radiasi.
3)      Lingkungan psikososial, meliputi stimulasi, motivasi belajar, teman sebaya, stress, sekolah, cinta kasih, interaksi anak dengan orang tua.
4)      Lingkungan keluarga dan adat istiadat, meliputi pekerjaan atau pendapatan keluarga, pendidikan orang tua, stabilitas rumah tangga, kepribadian orang tua.
3.      Faktor Status Sosial ekonomi
Status sosial ekonomi dapat berpengaruh pada tumbuh kembang anak. Anak yang lahir dan dibesarkan dalam lingkungan status sosial yang tinggi cenderung lebih dapat tercukupi kebutuhan gizinya dibandingkan dengan anak yang lahir dan dibesarkan dalam status ekonomi yang rendah.
4.      Faktor nutrisi
Nutrisi adala salah satu komponen penting dalam menunjang kelangsungan proses tumbuh kembang. Selama masa tumbuh kembang, anak sangat membutuhkan zat gizi seperti protein, karbohidrat, lemak, mineral, vitamin, dan air. Apabila kebutuhan tersebut tidak di penuhi maka proses tumbuh kembang selanjutnya dapat terhambat.

5.      Faktor kesehatan
Status kesehatan dapat berpengaruh pada pencapaian tumbuh kembang. Pada anak dengan kondisi tubuh yang sehat, percepatan untuk tumbuh kembang sangat mudah. Namun sebaliknya, apabila kondisi status kesehatan kurang baik, akan terjadi perlambatan.

C.    Ciri Proses Tumbuh Kembang

Menurut Soetjiningsih, tumbuh kembang anak dimulai dari masa konsepsi sampai dewasa memiliki ciri-ciri tersendiri yaitu :
1.      Tumbuh kembang adalah proses yang kontinyu sejak konsepsi sampai maturitas (dewasa) yang dipengaruhi oleh faktor bawaan daan lingkungan.
2.      Dalam periode tertentu terdapat percepatan dan perlambatan dalam proses tumbuh kembang pada setiap organ tubuh berbeda.
3.      Pola perkembangan anak adalah sama, tetapi kecepatannya berbeda antara anak satu dengan lainnya.
4.      Aktivitas seluruh tubuh diganti dengan respon tubuh  yang khas oleh setiap organ.
Secara garis besar menurut Markum (1994) tumbuh kembang dibagi menjadi 3 yaitu:
1.    Tumbuh kembang fisis
Tumbuh kembang fisis meliputi perubahan dalam ukuran besar dan fungsi organisme atau individu. Perubahan ini bervariasi dari fungsi tingkat molekuler yang sederhana seperti aktifasi enzim terhadap diferensi sel, sampai kepada proses metabolisme yang kompleks dan perubahan bentuk fisik di masa pubertas.

2.    Tumbuh kembang intelektual
Tumbuh kembang intelektual berkaitan dengan kepandaian berkomunikasi dan kemampuan menangani materi yang bersifat abstrak dan simbolik, seperti bermain, berbicara, berhitung, atau membaca.
3.    Tumbuh kembang emosional
Proses tumbuh kembang emosional bergantung pada kemampuan bayi umtuk membentuk ikatan batin, kemampuan untuk bercinta kasih.

D.    Tumbuh Kembang Usia Remaja

1.      Pengertian Remaja
Masa remaja menurut Mappiare (1982) berlangsung antara umur 12 sampai dengan 21 tahun bagi perempuan dan 13 sampai 22 tahun bagi laki-laki. Rentang usia remaja tersebut dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu usia 12/13 sampai 17/18 tahun adalah remaja awal dan usia 17/18 tahun sampai 21/22 tahun, yaitu remaja akhir.
Remaja dalam bahasa aslinya disebut adolescence, berasal dari bahasa adolecere yang artinya “tumbuh atau tumbuh untuk mencapai kematangan”. Bangsa primitif dan orang-orang purbakala memandang masa puber dan masa remaja berbeda dengan periode lain dalam rentang kehidupan. Perkembangan lebih lanjut, istilah adolescence sesungguhnya memiliki arti mencakup kematangan mental, emosional, sosial, dan fisik (Hurlock:1991). Pandangan tersebut kemudian didukung oleh Piaget yang mengatakan bahwa secara psikologis, remaja adalah suatu usia dimana individu menjadi julam masyarakat dewasa, suatu usia dimana anak tidak merasa berada dibawah tingkat orang yang lebih tua, melainkan merasa sama atau paling tidak sejajar. Memasuki masyarakat dewasa ini mengandung afektif, lebih atau kurang dari usia pubertas.
Remaja juga sedang mengalami perkembangan pesat dalam aspek intelektual. Transformasi intelektual dari cara berpikir remaja ini memungkinkan mereka tidak hanya mampu mengintregasikan dirinya ke dalam masyarakat dewasa, tetapi juga merupakan karakteristik yang paling menonjol dari semua periode perkembangan (Shaw dan Costanzo, 1985).

2.      Tugas-Tugas Perkembangan Masa Remaja
Tugas perkembangan masa remaja difokuskan pada upaya meninggalkan sifat kekanak-kanakan serta berusaha untuk mencapai kemampuan bersikap dan berperilaku secara dewasa. Adapun tugas-tugas perkembangan masa remaja menurut Hurlock (teen task development) (1991) adalah berusaha:
a)    Mampu menerima keadaan fisiknya
b)   Mampu menerima dan memahami peran seks usia dewasa
c)    Mampu membina hubungan baik dengan anggota kelompok yang berlawanan jenis
d)   Mencapai kemandirian emosional
e)    Mencapai kemandirian ekonomi
f)    Mengembangkan konsep dan keterampilan intelektual yang sangat diperlukan untuk melakukan peran sebagai anggota masyarakat
g)   Memahami dan menginternalisasikan nilai-nilai orang dewasa dan orang tua
h)   Mengembangkan perilaku tanggung jawab sosial yang diperlukan untuk memasuki dunia dewasa
i)     Mempersiapkan diri untuk memasuki perkawinan
j)     Memahami dan mempersiapkan berbagai tanggung jawab kehidupan keluarga.

Tugas-tugas perkembangan fase remaja sangat berkaitan dengan perkembangan kognitifnya, yaitu fase operasional formal. Kematangan pencapaian fase kognitif akan sangat membantu kemampuan dalam melaksanakan tugas-tugas perkembanganya dengan baik.

3.      Tahap tumbuh kembang pada Remaja ( 12-18/20 tahun)
a)      Perkembangan Psikoseksual   Genital (13 tahun keatas / pubertas atau remaja sampai dewasa)
Tahap ini genital menjadi pusat kesenangan seksual dan tekanan, produksi horman seksual menstimulasi perkembangan heteroseksual, energi ditunjukan untuk mencapai hubungan seksual yang teratur, pada awal fase ini sering muncuul emosi yang belum matang, kemudian berkembang kemampuan untuk menerima dan memberi cinta.
b)      Perkembangan Psikosisial
Erik H Erickson mengungkapkan pendapatnya tentang teori perkembangan psikososial remaja (12 - 18 tahun)  pada tahap Identitas vs bingung (identity vs role confusion).
Teman sebaya memiliki pengaruh yang sangat besar yang kuat terhadap perilaku anak, anak mengembangkan penyatuan rasa diri sendiri, kegagalan untuk mengembangkan rasa identitas dengan kebingungan peran,sering muncul dari perasaan tidak adekuat, isolasi dan keragu-raguan. Individu mengembangkan kedekatan  dan berbagi hubungan dengan orang lain, yang mungkin termasuk pasangan seksualnya, ketidakpastian individu mengenai akan mempunyai kesulitan mengembangkan keintiman, individu tidak bersedia atau tidak mampu berbagi mengenai diri sendiri hal ini akan menjadikan individu meraa sendiri.
Selain teori tersebut menurut, diketahui bahwa gejolak emosi remaja dan masalah remaja lain pada umumnya disebabkan antara lain oleh adanya konflik peran sosial. Di satu pihak ia sudah ingin mandiri sebagai orang dewasa, di pihak lain ia masih harus terus mengikuti kemauan orang tua. Rasa ketergantungan pada orang tua di kalangan anak-anak Indonesia lebih besar lagi, karena memang dikehandaki demikian oleh orang tua.Konflik peran yang yang dapat menimbulkan gejolak emosi dan kesulitan kesulitan lain pada amasa remaja dapat dikurangi dengan memberi latihan-latihan agar anak dapat mandiri sedini mungkin. Dengan kemandiriannya anak dapat memilih jalannya sendiri dan ia akan berkembang lebih mantap. Oleh karena itu, ia tahu dengan tepat saat saat yang berbahaya di mana ia harus kembali berkonsultasi dengan orang tuanya atau dengan orang dewasa lain yang lebih tahu dari dirinya sendiri.

c)      Perkembangan Moral
Moral merupakan bagian yang cukup penting dalam jiwa remaja. Sebagian orang berpendapat bahwa moral bisa mengendalikan tingkah laku anak yang beranjak dewasa ini sehingga ia tidak melakukan hal hal yang merugikan atau bertentangan dengan kehendak atau pandangan masyarakat.Di sisi lain tiadanya moral seringkali dituding sebagai faktor penyebab meningkatnya kenakalan remaja.
Menurut teori Kohlberg (1968) menyatakan bahwa perkembangan moral remaja yaitu Tingkat moralitas pasca konvensional : usia 13 tahun sampai meninggal.  Individu memperoleh nilai moral yang benar, pencapaian nilai moral yang benar terjadi setelah dicapai formal operasional dan tidak semua orang mencapai tingkatan ini.
Konsep kunci untuk memahami perkembangan moral, khususnya teori Kohlberg, ialah internalisasi (internalization), yakni perubahan perkembangan dari perilaku yang dikendalikan secara eksternal menjadi perilaku yang dikendalikan secara internal.
d)   Perkembangan Spiritual
                  Sejalan dengan perkembangan social, perkembangan keagamaan mulai disadari bahwa terdapat aturan-aturan perilaku yang boleh, harus atau terlarang untuk melakukannya.Perkembangan spiritual anak sangat bepengaruh sekali dalam tumbuh kembang anak. Agama sebagai pedoman hidup anak untuk masa yang akan datang. Selain itu, moral seorang anak juga dapat dibentuk melalui perkembangan spiritual. Anak diberi pengetahuan adanya kepercayaan terhadap Tuhan YME sesuai dengan kepercayaan yang dianut orang tua. Karena agama seorang anak itu diturunkan/diwariskan oleh orang tuanya.
   Para ahli berpendapat bahwa perkembangan spiritual remaja (12-18 th) didefenisikan sebagai Tanda-tanda masa remaja awal : sikap negatif disebabkan alam pikirannya yang kritis melihat  kenyataan orang-orang beragama secara hypocrit yang pengakuan dan ucapannya tidak selalu sama dengan perbuatannya, pandangan dalam hal ke-Tuhanan menjadi kacau karena ia bingung terhadap berbagai konsep tentang aliran dan paham yang saling bertentangan.
Tanda-tanda masa remaja akhir : sikap kembali kearah positif  dengan tercapainya kedewasaan intelektual, pandangan dalam hal ke-Tuhanan dipahamkan dalam konteks agama yang dianut dan dipilih, penghayatan rohaninya kembali tenang setelah melalui proses identifikasi dan membedakan agama sebagai doktrin bagi para penganutnya.

4.      Karakteristik Pertumbuhan Fisik Remaja
 Awal masa remaja ditandai dengan pertumbuhan fisik yang sangat pesat, dengan mulai berfungsinya hormon-hormon sekunder. Masa remaja yang merupakan masa transisi dari masa kanak-kanak menuju kehidupan orang dewasa tersebut merupaka masa yang sulit dan penuh gejolak sehingga sering disebut sebagai masa badai dan topan, masa pancaroba, dan berbagai sebutan lainnya yang menggambarkan banyaknya kesulitan yang dialami anak pada masa perubahan tersebut. Secara umum, remaja memiliki ciri sebagai berikut:
a)      Pertumbuhan fisik yang sangat pesat dan mulai berfungsinya hormon sekunder, terutama hormon reproduksi.
b)      Fase remaja adalah masa mecari identitas sehingga pada masa ini anak mempunyai pribadi yang sangat labil, baik dalam hal pemikiran, perasaan, maupun emosinya sehingga pada masa ini anak akan mudah sekali dipengaruhi.
c)      Remaja mulai menginginkan kebebasan emosional dari orang tua, dan mulai mengikatkan dirinya dengan kehidupan per group sehingga pada masa ini kehidupan kelompok sebaya menjadi sangat pentin, bahkan dikatakan per group adalah “ segala-galanya” untuk remaja.
d)     Adanya berbagai perubahan yang dialami menyebabkan remaja menjadi anak yang emosional, gampang tersinggung, mudah melampiaskan kemarahanya, malas, murung, dan selalu ingin menangis sendiri yang kadang-kadang tanpa sebab yang pasti.
e)      Perkembangan penalaran yang pesat menjadikan kelompok remaja menjadi kelompok yang bersifat kritis dan idealis sehingga dalam kehidupan sosial kemasyarakatan kelompok ini mudah sekali melakukan protes bila ditemui hal yang tidak sesuai dengan konsep idealismenya.
f)       Pada masa ini juga berkembang rasa ingin tahu yang sangat besar sehingga pada kelompok-kelompok remaja juga berkembang sifat heroik sehingga remaja suka sekali menjadi pengelana, mendaki gunung atau menjadi penjelajah dan kegiatan-kegiatan lain yang menyerempet bahaya.
g)      Mulai berfungsinya hormon sekunder, terutama hormon reproduksi menyebabkan remaja mulai tertarik pada lawan jenis, sebagai tanda kesiapan fisik mereka, pada masa ini anak juga suka berkhayal.

Pertumbuhan yang pesat dan munculnya berbagai perubahan fisik yang terjadi merupakan gejala primer yang menandakan awal masa remaja. pentingnya pertumbuhan fisik remaja sering menimbulkan kejutan pada diri remaja itu sendiri. Pakaian yang dimilikinya seringkali menjadi cepat tidak muat dan harus membeli lagi yang baru.

5.      Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Fisik Remaja
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi pertumbuhan fisik remaja dapat berasal dari berbagai sumber, yaitu:
a)      Keluarga
Faktor dari keluarga yang dapat mempengaruhi pertumbuhan fisik remaja meliputi keturunan dan lingkungan.keturunan menyebabkan seorang anak dapat lebih tinggi atau panjang dibandingkan anak lainnya sehingga akan lebih berat pula tubuhnya, sedangkan faktor lingkungan akan dapat membantu menentukan dapat tercapai tidaknya perwujudan potensi keturunan yang dibawa anak tersebut.
b)      Gizi
Anak-anak yang memperoleh gizi cukup selama masa pertumbuhannya biasanya akan lebih tinggi tubuhnya dan sedikit lebih cepat mencapai taraf atau masa remaja dibandingkan anak-anak yang kekurangan gizi.
c)      Gangguan Emosional
Dari berbagai penelitian menyimpulkan bahwa anak yang terlalu sering mengalami gangguan emosional akan menyebabkan terbentuknya steroid adrenal yang berlebihan. Hal tersebut akan mengakibatkan berkurangnya pembentukan hormon pertumbuhan di kelenjar pituitary.
d)     Jenis Kelamin
Dalam pertumbuhannya, anak laki-laki cenderung lebih tinggi dan lebih berat daripada anak perempuan, kecuali pada usia 12 dan 15 tahun anak perempuan biasanya menampakkan pertumbuhan sedikit lebih tinggi dan lebih berat daripada anak laki-laki.
e)      Status Sosial Ekonomi
Anak-anak yang berasal dari keluarga dengan status ekonomi yang redah, secara umum cenderung lebih kecil dari pada anak-anak yang berasal dari keluarga yang status ekonominya menengah apalagi mereka yang berada dalam status sosial ekonomi yang tinggi.
f)       Kesehatan
Status kesehatan anak juga banyak mempengaruhi pertumbuhan remaja. anak-anak yang sehat dan jarang sakit, biasanya akan memiliki tubuh yang lebih berat daripada anak yang sering sakit.
g)      Bentuk Tubuh
Kecenderungan bentuk tubuh, apakah masuk dalam klasifikasi eksomorf, mesomorf, atau endomorph akan mempengaruhi besar kecilnya tubuh remaja.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar